Back to Top
  • Insuring your future… today with Our Finance Advisors

    READ MORE

  • Looking for a clear & simple Finance Advise

  • We are Gives u every thing u need in Finance & business

Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Menghadapi MEA

Tahukah kamu khususnya di tingkat mahasiswa di Indonesia, khususnya di kampus bahasa Inggris masih belum 100 % di budayakan? kalaulah kita melihat Malaysia, Philippine atau Singapore sudah menganggap ini sebagai bahasa pergaulan sehari - hari. Marilah kita meningkatkan kemampuan bahasa asing kita namun tetap kita harus kuat dalam berbahasa Indonesia yang kita cintai.

Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rustono menyatakan bahwa kemampuan bahasa dan komunikasi mutlak diperlukan kalangan akademisi, terutama mahasiswa dalam rangka menghadapi ASEAN Free Trade Organization (AFTA) atau dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun ini.
Hal itu disampaikan Rustono saat menyampaikan materi dalam workshop kepenulisan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Pascasarjana Unnes, Sabtu (13/6) di aula utama PPS Unnes, Bendan Ngisor Semarang.

“Menghadapi MEA tidak cukup dengan kemampuan akademik atau sof skill yang dimiliki oleh mahasiswa, tapi perlu kemampuan lain yakni komunikasi,” katanya.
Dikatakan Rustono, kemampuan komunikasi yang dimaksud adalah penguasaan terhadap bahasa inggris. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menghadapi interaksi dengan masyarakat global. “Bahasa yang digunakan sebagai bahasa internasional adalah bahasa inggris, jika kita tidak menguasainya maka akan mengalami ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” papar pria yang juga menjabat sebagai Pembantu Rektor I Unnes ini.
Menurut profesor bidang linguistik ini, bahasa adalah jendela komunikasi dunia, dengan penguasaan bahasa mainstream akan berdampak kepada semakin baiknya interaksi dengan dunia global. Apalagi mahasiswa saat ini sudah banyak yang memiliki keahlian di bidang akademik.
Sementara itu, Ketua BEM Pascasarjana Unnes Indra Kurniawan mengatakan mahasiswa perlu mengembangkan budaya ilmiah. Menurutnya kemampuan bahasa yang dimiliki tanpa adanya budaya ilmiah maka akan terjadi ketimpangan. “Budaya ilmiah ini sangat penting Apalagi di era globalisasi jelang MEA ini dibutuhkan gagasan yang beragam dan baru,” tutur mahasiswa BK S2 ini.

Lebih lanjut, Indra menyampaikan gagasan ilmiah yang dimiliki dapat ditelurkan melalui karya ilmiah yang dapat masuk ke jurnal internasional. Hal ini dikarenakan jurnal internasional merupakan sarana pertukaran gagasan di dunia global. “Tidak hanya berhenti di jurnal internasional, tapi juga gagasan kita dapat memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat sekitar,” pungkasnya. Diunggah Nurul Iman.

sumber : http://bem.pps.unnes.ac.id/?p=154

0Comments

Posting Komentar